Langit Mendung, dan Kisah yang Bercerita
By: Mutiara Kasih “Mawar Biru”
Lihatlah diatas sana...
Yaa... mendung tak berarti hujan
Dan tertawa tak berarti tak sedih
Dan kau tahu...
Detak jarum jam akan terus maju
Dan waktu akan terus berlalu
Secepat itukah harus kulalui?
Dimana kamu dan aku bercerita tentang
jarak
Begitu cepatnya berlalu...
Saat kamu dan aku masih berkisah
tentang asa
Rasanya seperti dalam mimpi yang telah
lama usai
Meninggalkan sejarah dalam renungan
dipagi yang hampa
Inikah rasanya hilang?
Kehilangan sehari-hari bersamamu
Kehilangan pendengar yang baik
Kehilangan seseorang yang patut aku
kagumi
Yaa... mengagumimu sebagai sosok yang
berhati besar
Bukan tak memiliki yang aku tangisi
Memiliki bagiku hanyalah fase dari
rasa yang ada
Tapi sebuah cerita tentang
keberadaanmu
Yang tuan bilang “inilah cara
persahabatan kita”
Haaah... menghela nafas adalah cara
terbaik
Untuk mengungkapkan kalimat terakhir
Seutuhnya pertemuan adalah perpisahan
yang baru dimulai
Dan akhir dari perpisahan adalah air
mata
Langit akan kembali gelap,
Dan hujan akan kembali turun membawa
butir-butir rindu
Langit akan kembali bergemuruh,
Seperti gemuruh dalam dada tanpa kamu
lagi
Jika Tuhan sekali lagi memberi
kesempatan
Aku ingin mengulang hari dimana hatiku
terhibur
Dengan semua cerita-ceritamu
Wahai tuan, kamu tahu?
Pada do’a yang tak pernah berjarak
Kulantunkan bait demi bait kata demi
kata
Semua yang terbaik untukmu
Dalam garis waktu, kenangan hanyalah
kisah
Yang akan kita ceritakan dalam ruang
yang berbeda
Ruang dimana kamu dan rusukmu, lalu aku
dan imamku
Dan kita akan memulai kisah baru
bersama mereka
Sedangkan kita yang lalu akan menjadi
bunga hidup
Yang tiada ternilai harganya
Kan kutitipkan salam rindu pada hujan
Kan kutitipkan salam rindu pada senja
Agar tuan tahu disana hanya ada sunyi
yang damai
Bersama kisah yang telah usai.
Komentar
Posting Komentar